News Flash :

ikuti dan baca tentang penggelapan dana pengadaan Komputer oleh oknum Dinas Lamongan pada tanggal 1 September 2010

HUBUNGAN BILATERIAL INDONESIA - MALAYSIA MEMANAS

PELANTIKAN WALIKOTA SURABAYA DILAKSANAKAN SETELAH LEBARAN

AWAS PENIPUAN GENDAM

Propam Polda Jatim Tangani Kasus Penembakan Marinir Secara Terbuka

Busyro dan Bambang Calon Ketua KPK

Walikota Jambi Dituntut TegasDalam Kasus Narkoba

Peresmian RS BDH Diresmikan Tanpa Perda

Pengedar Video Porno di tangkap Kepolisian Surabaya

pengusaha Perumahan Kemplang Uang Pasutri Kediri,dengan dalih memberi jaminan Cek Kosong

korban dari pelayanan Dokter Lamongan,Minta ganti rugi akibat ke butaannya

Polisi Temukan siapa pengunduh Video Ariel,

UPTD Dinas Perhubungan Kota Surabaya lakukan Pelanggaran Proses Uji Kir

Penangkapan Tukang pakir di harapkan jangan tebang pilih,dalam satu lokasi. harusnya penegak hukum bertindak Kooperatif

pengurus Taman Bungkul Sby.meminta agar kinerja Satpol PP Kooperaktif

 

menu.jpg
2009-08-07 
Ws Rendra,susul mbah Surip
Jakarta–analisapublik.com-Dunia seni Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dramawan, sastrawan,
dan penyair WS Rendra telah menghadap ilahi. WS Rendra menyusul kematian rekannya dua hari lalu yakni Mbah Surip. Selamat jalan Burung Merak…Penyair bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lahir di Solo, 7 November 1935 ini menghembuskan napas terakhirnya di RS Mitra Keluarga, Depok, Kamis (6/8)sekitar pukul 22.05 WIB. Kematiannya mengagetkan dunia seni Indonesia yang baru saja terhenyak atas kematian si penyanyi fenomenal Urip Ahmad Riyanto alias Mbah Surip, si pelantun lagu Tak Gendong.

Pasalnya, Mbah Surip yang merupakan teman dekatnya telah meminta izin kepadanya untuk dimakamkan di kompleks Bengkel Teater, Citayam, Depok, yang didirikan Rendra.

Saat kematian Mbah Surip 4 Agustus lalu, Rendra bahkan tidak sempat menghadirinya. Saat itu dia tengah mendapat perawatan intensif di RS Mitra Kelapa Gading, Jakarta, akibat komplikasi penyakit jantung koroner dan ginjal yang telah dideritanya bertahun-tahun.

WS Rendra mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Menekuni dunia sastra baginya memang bukanlah sesuatu yang kebetulan namun sudah menjadi cita-cita dan niatnya sejak dini. Hal tersebut dibuktikan ketika ia bertekad masuk ke Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, selepas menamatkan sekolahnya di SMA St Josef, Solo. Setelah mendapat gelar sarjana muda, dia kemudian melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Art, New York, Amerika Serikat.

Sejak kuliah di UGM, dia telah giat menulis cerpen dan esai di berbagai majalah, seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, dan Budaja Djaja. Dia juga menulis puisi dan naskah drama.

Sebelum berangkat ke Amerika, dia telah banyak menulis sajak maupun drama. Di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada zaman itu.

Sepulangnya dari AS pada 1967, pria tinggi besar berambut gondrong dengan suara khas ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Memimpin teater, menulis naskah, menyutradarai, dan memerankannya, dilakukannya dengan sangat baik.

Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi mahasiswa sangat aktif di 1978, membuat Rendra pernah ditahan pemerintah Orde Baru. Demikian juga pementasannya ketika itu sering kali mendapat larangan. Seperti dramanya yang terkenal berjudul Sekda dan Mastodon, serta Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Di samping karya kritis, dramawan ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah. Di antaranya, puisi yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.

Prestasinya di dunia sastra dan drama selama ini juga telah ditunjukkan lewat banyaknya penghargaan yang telah diterimanya. Seperti Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada 1957, Anugerah Seni dari Departemen P dan K pada 1969, Hadiah Seni dari Akademi Jakarta pada 1975, dan lain sebagainya.

Kini Si Burung Merak itu telah tiada. Selamat jalan Burung Merak. Terbanglah menuju peristirahatan terakhirmu dengan tenang.Amin
Untitled Document
   :: Baca Juga   
:: Home | Kontak Kami   

Copyright © 2009 analisapublik.com All Right Reserved