2009-08-07 Masyaallah,Uang Miliaran Mbah Surip Hanya Khayalan |

Jakarta-analisapublik.com-Mbah Surip kaya raya? Itu anggapan banyak orang. Kenyataannya, artis nyentrik yang digosipkan punya rumah mewah dan mobil ini justru meninggal di rumah orang lain, pelawak Mamik Prakoso, dalam kondisi terkesan susah.
Mbah Surip yang akhir-akhir ini sibuk luar biasa tampil di berbagai panggung pertunjukan dan acara televisi, pada Minggu (2/8) malam datang ke rumah Mamik Prakoso di Jalan Kerja Bakti, Kelurahan Makasar, Jakarta Timur. Saat itu ia mengaku ingin istirahat menghindari berbagai kesibukan. Rupanya itulah peristirahatan selamanya, setelah pada Selasa (4/8) siang mbah Surip menghembuskan nafas terakhirnya.
Semasa hidupnya, Mbah Surip yang bergelar insinyur geologi dan pernah bekerja di berbagai perusahaan pertambangan di luar negeri, berpindah-pindah tempat tinggal semaunya atau ngeblangsak. Jauh sebelum tenar, ia bahkan cukup lama tinggal di rumah Mamik Prakoso. Cukup lama pula ia hidup menggelandang di Bulungan, Jakarta Selatan. Akhir-akhir ini ia menempati sebuah rumah petak di lingkungan Kampung Artis, Cipayung, Jakarta Timur.
PERKIRAAN HASIL RBT
Tentang duit miliaran yang selama ini disebut-sebut telah dimiliki Mbah Surip, data yang didapat Pos Kota dari Manajer Humas Telkomsel Suryo Hadianto, Selasa (4/8), memperlihatkan hitungan uang yang fantastis dari fenomena Mbah Surip. Tetapi, itu semua masih di atas kertas. Sebanyak 500 ribu pemilik hand phone (HP) isi Telkomsel, menjadikan lagu Tak Gendong sebagai ring back tone (RBT) atau nada panggilan pribadi (NSP).
“Itu angka Bulan Juli. Kami melihat ada kecenderungan menanjak di bulan ini,” jelasnya. Secara terpisah, Myra Junor, General Manager Corporate Communication XL, mengemukakan sebanyak 70 ribu pengguna HP isi XL menjadikan lagu Mbah Surip sebagai RBT.
Mencuatnya lagu Tak Gendong menjadi RBT, memunculkan gosip bahwa penyanyi berambut gimbal tersebut meraup uang sekitar Rp 4 miliar hingga Rp 9 miliar.
DIHITUNG SETELAH 3 BULAN
Menanggapi itu, Efi Puspita, Bendahara Asosasi Penyediaan Konten Seluler (IMOCA), mengatakan, bisik-bisiknya memang sekitar Rp 4,5 miliar. “Itu untuk Mbah Surip saja,” ujarnya kepada Pos Kota. Faktanya, angka pendapatan Mbah Surip sebanyak itu masih misterius. Soalnya, pihak Falcon, pemegang label lagu tersebut, belum mau buka mulut.
“Hingga sekarang masih belum diperoleh laporan dari operator seluler,” kata Adit Obe, dari bagian musik PT Falcon, tempat lagu Tak Gendong dilansir menjadi RBT maupun bentuk fisik berupa VCD maupun DVD-nya.
Alasannya, pihak produser belum memperoleh laporan yang biasanya diberikan pihak operator setiap tiga atau enam bulan. Hitungan RBT lagu Mbah Surip dikatakan pihak Falcon, dimulai sejak masa promosi, Juli 2009. Selain lagu Tak Gendong, Falcon juga menjadikan lagu mbah Surip lain, Tidur Lagi, sebagai RBT.
“Saya juga belum lihat bagaimana cara pembagiannya menurut kontrak,” kata Adit. Ia belum bisa memperkirakan berapa besar bagian Mbah Surip yang akan diterima dari RBT kedua lagu tersebut.
GAMBARAN BAGI HASIL
Di tempat terpisah, Dharma Oratmangun, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penataan Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), memberikan gambaran tentang penghasilan seorang pencipta dan penyanyi dari hasil pengunduhan (download) lagu untuk RBT yakni dari Rp9 ribu yang dibayar konsumen setiap bulan, diambil Telkomsel sebesar Rp5.750 (63,8 persen).
Sisanya dibagi antara penerbit dan pencipta lagu Rp406 (4,51 persen), label + CP (content provider) Rp 2.438 (27,08 persen), sedangkan artis kebagian Rp 406 (4,51 persen).
Dari hasil hitungan tersebut, maka Mbah Surip sebagai artis dan pencipta lagu kemungkinan memperoleh sekitar 9 persen atau sekitar Rp 912 per pengunduh.
Sementara itu, pihak operator XL dengan biaya bulanan Rp 5.000 bagi pengunduh, membagi hasil untuk XL sebesar Rp 4.000 (80 persen), sisanya Rp 1.000 dibagi untuk penerbit dan pencipta Rp 125,- (1,25 persen), label + CP sebesar Rp 750,- (15 persen), serta artis mendapatkan Rp 125,- (2,5 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp63,- (1,25 persen).
Operator Mobile 8 dengan tarif Rp 8.000/pengunduhan lagu, pembagiannya Mobil 8 mendapat Rp 5.130,- (64,13 persen), dan sisanya dibagi antara penerbit serta pencipta Rp 359,- (4,48 persen), label + CP sebesar Rp 2.153 (26,9 persen), dan untuk artis Rp 359 (4,48 persen). Pencipta lagu dalam hal ini mendapat Rp 179 (2,24 persen).
Pembagian jatah uang dari lagu yang diunduh pemilik HP jika diurai, maka pihak pencipta lagu paling kecil mendapat jatah. Rata-rata hanya sekitar Rp 500,-/lagu yang diunduh untuk masa sebulan!
JUNGKIR-BALIKKAN PANDANGAN
Fakta ini menjungkir-balikkan pandangan banyak orang terhadap Mbah Surip. Di mata awam, Mbah Surip dianggap makmur dan tajir lantaran lagunya banyak diunduh pemilik HP untuk RBT.
“Kenyataannya, justru hidup Mbah Surip ngebalangsak. Saya pernah tanya kepada Mbah Surip soal pendapatan dari lagu Tak Gendong, dia malah bilang belum dapat apa-apa,” ungkap Sugama, pemilik Kampung Artis Entertainment (KAE), yang mamanajemeni Mbah Surip.
Dia mengemukakan rumah dan mobil yang dimiliki Mbah Surip pemberian pihak KAE. Bahkan, Mbah Surip selama ini lebih sering naik ojek motor. “Kami membeli lagu Mbah Surip berjudul Dielus-elus, sekitar 5 tahun lalu, harganya sekitar Rp 1 juta,” ujarnya.
Bisnis lagu sistem beli putus semacam ini semakin membuat kesuksesan Mbah Surip diliputi misteri terkait penghasilan yang dikabarkan mencapai miliaran rupiah. Lagu Tak Gendong menjadi bagian terkuat dari misteri itu.
Dengan kata lain, angka miliaran rupiah didapat Mbah Surip bisa jadi sekadar khayalan. Keinginan membeli helikopter, kopi semiliar, gula semiliar tak sempat diwujudkan Mbah Surip sampai tarikan nafas terakhirnya. Bahkan ketika isu uang miliaran, rumah mewah dan sebuah mobil telah diberikan kepadanya, ia tetap berpindah-pindah tempat tinggal dan kemana-nama naik ojek. Selamat jalan Mbah Surip.
Pemakaman jenazah Mbah Surip sebelumnya sempat simpang siur. Apalagi ada kabar keluarga minta jenazah dimakamkan di kampung halamannya.
Setelah perundingan, Selasa (4/8) malam keluarga sepakat memenuhi permintaan almarhum yakni pemakamannya di Kompleks Padepokan Bengkel Teater milik WS Rendra di Citayam, Depok, Jawa Barat.
|
|
|
|
|
Untitled Document
|