News Flash :

ikuti dan baca tentang penggelapan dana pengadaan Komputer oleh oknum Dinas Lamongan pada tanggal 1 September 2010

HUBUNGAN BILATERIAL INDONESIA - MALAYSIA MEMANAS

PELANTIKAN WALIKOTA SURABAYA DILAKSANAKAN SETELAH LEBARAN

AWAS PENIPUAN GENDAM

Propam Polda Jatim Tangani Kasus Penembakan Marinir Secara Terbuka

Busyro dan Bambang Calon Ketua KPK

Walikota Jambi Dituntut TegasDalam Kasus Narkoba

Peresmian RS BDH Diresmikan Tanpa Perda

Pengedar Video Porno di tangkap Kepolisian Surabaya

pengusaha Perumahan Kemplang Uang Pasutri Kediri,dengan dalih memberi jaminan Cek Kosong

korban dari pelayanan Dokter Lamongan,Minta ganti rugi akibat ke butaannya

Polisi Temukan siapa pengunduh Video Ariel,

UPTD Dinas Perhubungan Kota Surabaya lakukan Pelanggaran Proses Uji Kir

Penangkapan Tukang pakir di harapkan jangan tebang pilih,dalam satu lokasi. harusnya penegak hukum bertindak Kooperatif

pengurus Taman Bungkul Sby.meminta agar kinerja Satpol PP Kooperaktif

 

menu.jpg
2010-07-16 
Pentingnya Balita Untuk Aktif di Posyandu
ANALISAPUBLIK.COM//-Upaya monitoring secara menyeluruh terhadap balita di Trenggalek masih menemui kendala. Pasalnya dari 50 ribu balita yang ada baru 65 persennya saja yang aktif diikutkan Posyandu.
Kepala Dinas Kesehatan Trenggalek, Ubaidillah mengatakan, mengikut sertakan anak dalam posyandu sangatlah penting karena dengan posyandu orang tua maupun Dinas Kesehatan dapat melakukan monitoring perkembangan balita setiap bulan.
"Fungsi posyandu salah satunya juga untuk monitoring berat badan balita,kenapa, karena dengan itu kita dapat melihat balita mana yang mengalami kekurangan gizi,"kata Ubaidillah.
Ubaidillah mengkhawatirkan 35 persen balita yang tidak ikut dalam poyandu justru yang mengalami kekurangan gizi. Karena perkembanganya tidak terpantau oleh Dinas Kesehatan.
"Ini penting, Karena apabila balita sudah berada dibawah garis merah (BGM) harus kita segera di interfensi agar tidak mengalami gizi buruk" ucap Ubaidillah.
Lebih lanjut mantan staf ahli Bupati ini menjelaskan, ada sebagian masyarakat yang enggan ke posyandu karena malu apabila kondisi balitanya dinyatakan kurang gizi. Padahal menurutnya apabila ada balita yang kekurangan gizi langsung ditangani oleh Dinkes.
"Kita menyediakan sarana seharusnya dimanfaatkan, nah tapi apabila kondisinya seperti ini bagaimana kita bisa maksimal melakukan pemantauan" kata Ubaidillah
Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu. berbagai macam cara sudah dilakukan, termasuk memberikan himbauan ke Kepala Desa untuk menggerakkan masyarakat sadar posyandu.
"Dulu pada tahun 1998 kita mampu memonitor 85 persen balita , tapi setelah reformasi justru terus turun bahkan sampai 45 persen, kerana kita tidak bisa lagi memaksa mereka untuk ke posyandu" Imbuh Ubadillah.
Untuk mensisati agar bisa melakukan monitoring berat badan ke 100 persen balita di Trenggalek Dinkes melakukan program wajib timbnag , yang mana setiap enam bulan sekali mewajibkan msyarakat yang memiliki balita untuk menimbangkan anaknya ke posyandu.
"Dengan itu, masyarakat kita sadarkan ,kalau gak mau ke posyandu, minimal enam bulan sekali harus datang untuk timbangan" kata Ubaidillah.
Meski menghadapi berbagai macam kendala, Dinkes Trenggalek menargetkan kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu naik 5 persen pertahun sehingga jumlah balita yang mengalami kekurangan gizi buruk bisa segera tertangani.(dan)
Untitled Document
   :: Baca Juga   
:: Home | Kontak Kami   

Copyright © 2009 analisapublik.com All Right Reserved