News Flash :

ikuti dan baca tentang penggelapan dana pengadaan Komputer oleh oknum Dinas Lamongan pada tanggal 1 September 2010

HUBUNGAN BILATERIAL INDONESIA - MALAYSIA MEMANAS

PELANTIKAN WALIKOTA SURABAYA DILAKSANAKAN SETELAH LEBARAN

AWAS PENIPUAN GENDAM

Propam Polda Jatim Tangani Kasus Penembakan Marinir Secara Terbuka

Busyro dan Bambang Calon Ketua KPK

Walikota Jambi Dituntut TegasDalam Kasus Narkoba

Peresmian RS BDH Diresmikan Tanpa Perda

Pengedar Video Porno di tangkap Kepolisian Surabaya

pengusaha Perumahan Kemplang Uang Pasutri Kediri,dengan dalih memberi jaminan Cek Kosong

korban dari pelayanan Dokter Lamongan,Minta ganti rugi akibat ke butaannya

Polisi Temukan siapa pengunduh Video Ariel,

UPTD Dinas Perhubungan Kota Surabaya lakukan Pelanggaran Proses Uji Kir

Penangkapan Tukang pakir di harapkan jangan tebang pilih,dalam satu lokasi. harusnya penegak hukum bertindak Kooperatif

pengurus Taman Bungkul Sby.meminta agar kinerja Satpol PP Kooperaktif

 

menu.jpg
2010-07-16 
Operasi Tanpa Dibius
ANALISAPUBLIK.COM//-Menjalani pembedahan tanpa dibius tentu sakit sekali. Namun, itulah yang terjadi di Korut, seperti diungkap perempuan negara komunis kepada AmnestiInternasionalPerempuan 56 tahun itu mengaku pernah menjalani operasi usus buntu tanpa mendapat suntikan penghilang rasa sakit. “Operasinya selama satu jam. Saya berteriak kesakitan. Saya pikir saya akan mati,” kenangnya.
Temuan pihak AI, seperti dilansir BBC, Kamis (15/7), menunjukkan rendahnya fungsi dan layanan rumah sakit, tingkat kebersihan yang minim dan epidemi yang diperparah dengan banyaknya kasus gizi buruk.
Banyak warga Korut yang terlalu miskin untuk memeriksakan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan pemerintah Korut hanya mengeluarkan tunjangan kesehatan kurang dari Rp 10.000 per warga setiap tahun.
Laporan AI itu berdasarkan hasil wawancara sekitar 40 warga Korut yang meninggalkan negara tersebut mulai 2004 hingga 2009. Para petugas medis yang bekerja di Korut juga dimintai keterangan.
Korut pernah menyatakan bahwa mereka menyediakan layanan kesehatan gratis untuk warganya. Namun, para saksi membantahnya karena pada kenyataannya mereka harus membayar.
“Jika Anda tidak memiliki uang Anda mati,” ujar seorang perempuan warga provinsi Hamgyeong Utara yang meninggalkan Korut tahun 2008.
Pria lainnya mengungkapkan, RS di Korut tidak memiliki persediaan obat. Pasien harus membelinya dulu ke toko dan menyerahkannya kepada dokter. Buruknya tingkat kebersihan fasilitas medis dan minimnya persediaan obat, menurut AI, membahayakan kehidupan warga Korut.
Pihak AI menyarankan agar Korut mau bekerja sama dengan negara luar yang memberi bantuan. Dan memastikan laporan transparan terkait bantuan kesehatan dan pangan bagi mereka.
“Warga Korut dalam kondisi kritis. Mereka butuh bantuan medis dan makanan,” ujar Catherine Baber, Direktur AI wilayah Asia-Pasifik.(ap)
Untitled Document
   :: Baca Juga   
:: Home | Kontak Kami   

Copyright © 2009 analisapublik.com All Right Reserved