Pembangunan Jembatan Gantung Kaliregoyo Lumajang Menelan Rp 9,4 Miliar

  • Bagikan

ANALISAPUBLIK.COM | Lumajang – Jembatan gantung Kaliregoyo sepanjang 150 meter lebar 2 meter di Desa Jugosari Kecamatan Candipuro Lumajang tidak hanya membuka aksesibilitas dan mobilitas masyarakat, namun bisa menjadi objek wisata, Minggu (19/12/2021).

Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan kepada warga Desa Jugosari dan Sumberwuluh Kecamatan Candipuro, dengan rampungnya Jembatan Gantung Kaliregoyo, akan menjadi tujuan wisata karena view indah di kiri kanan jembatan.

Dipaparkan Indah, sebelum dibangun jembatan gantung, warga dua desa harus bersusah payah melintasi Kaliregoyo untuk mobilitas perekonomian maupun untuk mengakses pendidikan anak-anak di sana.

“Sebelum ada jembatan ini masyarakat melintasi sungai, anak-anak yang mau sekolah juga harus melintasi sungai. Sangat berbahaya, kalau ada lahar, anak-anak terpaksa libur sekolah,” ungkapnya.

Indah menjelaskan jembatan gantung menghubungkan Desa Jugosari dengan Dusun Jobong dan Dusun Kajar Kosong Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro ini, pembangunannya bersumber APBN Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

David Rachmat Prabowo, ST., M.Sc PPK 1.7 Provinsi Jawa Timur ( Jember – Sumberjati – Gentengkulon – Jajag – Srono – Banyuwangi ) selaku pelaksana pembangunan jembatan gantung Kaliregoyo mengatakan, saat ini jembatan gantung sudah bisa difungsikan dan dioperasionalkan untuk melayani warga sekitar. Pembangunan jembatan gantung tersebut menggunakan sumber dana APBN TA 2020/2021 dengan nilai kontrak Rp. 9.416.639.000.
David menjelaskan terkait struktur jembatan gantung tersebut bergantung pada wire rope yang ditahan oleh blok angkur atau counter weight, dengan konstruksi 2 tiang peyanggah setinggi 18 meter. Sedangkan untuk oprit atau jalan akses sepanjang 60 meter dengan menggunakan konstruksi oprit menggunakan box culvert.

Mengingat panjang bentang jembatan gantung lebih dari 100 meter, David mengatakan sebagai bentuk pengaman kontrsuksi jembatan terdapat 4 ikatan angin. “ fungsinya untuk membuat stabil lantai, karena panjang bentang lebih dari 100 meter itu rawan goyang, jadi kita pasang ikatan angin masing-masing dua titik.” Tandas David.

Selama masa pembangunan jembatan gantung Kaliregoyo, David menceritakan mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat sekitar. “malah masyarakat sekitar juga membantu kami selama pembangunan gantung, jadi kami merasa senang juga melihat respon baik masyarakat sekitar.” Ungkap david. Setelah jembatan gantung dapat beroperasi penuh masarakat sekitar juga mendirikan warung – warung, “selain sebagai akses transportasi, jembatan gantung digunakan tempat pariwisata oleh masyarakat sekitar.” Imbuh David.

Berbeda dengan kondisi jembatan yang runtuh di gladak perak, akibat muntahan lahar dingin gunung semeru, jembatan gantung kaliregoyo yang jaraknya 3 km dari lereng gunung semeru ini, terlihat tetap megah dan sama sekali tidak terdampak akibat erupsi gunung semeru di awal desember 4/12/2021 dan jembatan gantung kaliregoyo tersebut menjadi harapan semua warga dalam menjalankan aktifitas dari penghubung desa sumber wuluh dengan desa jugosari.

(restu wahyudi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nyalakan Notifikasi    OK No thanks