Pusaka Masyarakat Tulungagung Kyai Upas Akan Diboyong Puang Menuju Kasepuhan Perdikan Majan

  • Bagikan

ANALISAPUBLIK.COM | Tulungagung –
Niat keluarga besar Sentono Dalem Perdikan Majan membawa Pusaka Kiai Upas ke Bumi Kasepuhan Perdikan Majan tidak semudah yang dibayangkan. Pasalnya, ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan untuk menyimpan benda pusaka masyarakat Tulungagung tersebut di Kasepuhan Perdikan Majan Tulungagung.
Doktor muda sekaligus ketua Yayasan Sentono Dalem Perdikan Majan (YASENDAM), Raden Ali Sodik mengatakan, “Pusaka Kanjeng Kyai Upas memiliki nilai lebih dalam sejarah perjalanan Kabupaten Tulungagung. Sementara itu, Penempatan Pusaka Kanjeng Kyai Upas di Gedung Perpustakaan dinilai kurang menghargai adat istiadat yang ada, dikarenakan pemegang terakhir yakni Almarhum Raden Mas (RM) Indronoto, salah seorang ahli waris yang menempati dalem kanjengan yang meninggal dunia dan dimakamkan di pesarean keluarga Sentono Dalem Perdikan Majan. Dan Pusaka Kanjeng Kyai Upas sudah ditetapkan sebagai Simbolis pusaka Kabupaten Tulungagung.”
“Dikarenakan dugaan polemik Pendopo Kanjengan, rumah bekas RMT Pringgodiningrat sudah dijual oleh ahli waris (yang seyogyanya di uri uri menjadi cagar budaya Tulungagung), kami keluarga besar Sentono Dalem Perdikan Majan akan segera melakukan penyelesaian secara administrasi serta mengembalikan kembali fungsi Pendopo Kanjengan tersebut sebagai rumah Tombak Kyai Upas.
Lanjut Gus Ali sapaan akrabnya, jika tidak berhasil rencana kami akan memboyong pusaka tersebut secara hukum di dekat pusaran makam Bupati Ke IV R.M.T. Pringgodiningrat, Bupati Ke V R.M.T. Adipati Jayaningrat dan Bupati Ke X R.M.T. Pringgokusumo yang sebagaimana mestinya di Kawasan Kasepuhan Perdikan Majan. Alasan kami bahwa Tombak Kyai Upas adalah nama sebuah pusaka berbentuk tombak, dengan landeannya sepanjang tidak kurang dari 5 meter. Pusaka ini berasal dari Mataram yang dibawa oleh R.M. Tumenggung Pringgodiningrat putra dari Pangeran Notokoesoemo di Pekalongan yang menjadi menantu Sultan Jogyakarta ke II (Hamengku Buwono II yang bertahta pada tahun 1792-1828), saat itulah ketika RM.T Pringgodiningrat diangkat menjadi Bupati Ngrowo (Tulungagung sekarang,)
“Rencana kedua, kami akan legowo kalau ternyata Pendopo Kanjengan tersebut ternyata tidak dijual, maka Pemda harus segera memindahkan pusaka tersebut ke Pendopo Bupati Kabupaten Tulungagung, karena alasan pusaka tersebut adalah pusaka Bupati Tulungagung. Begitupun keluarga Sentono Dalem Perdikan Majan mempunyai peran dalam menjaga dan menguri uri pusaka keluarga Perdikan Majan. Itu yang menjadi alasan kami sangat ingin memindahkan pusaka kebanggaan tersebut ke sini (Majan)
“Dengan keberadaannya di Kasepuhan Perdikan Majan nanti, diharapkan nilai sejarah yang ada bisa kian terasa. Nilai historis dan arti yang ada di dalamnya sangat berharga bagi masyarakat Tulungagung. Sejalan dengan itu, bisa dijadikan suatu edukasi sejarah pada masyarakat tentang asal-muasal Tulungagung. Tentu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat jika pusaka tersebut bisa diboyong ke Kasepuhan Perdikan Majan. Untuk itu, dalam waktu dekat ini Kasepuhan Perdikan Majan bakal mengajukan permohonan guna memboyong pusaka tersebut ke Majan melalui BPCB dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.”

“Bisa diibaratkan Pendopo Kanjengan adalah aset daerah yang berharga dan Tombak Kyai Upas ini merupakan peninggalan terbaik bagi masyarakat Tulungagung. Maka dengan sekuat tenaga kami akan memboyongnya dan memulai prosesnya, kami keluarga Sentono Majan akan iuran (urunan, Red) dan melakukan koordinasi dengan keluarga Sentono yang sekarang banyak menjadi pejabat di Jakarta untuk rencana membeli pendopo kanjengan untuk bisa berfungsi sesuai aslinya sebagau rumah pusaka kanjeng kyai upas tersebut karena banyak keluarga yang mempertanyakan dan prihatin karena pusaka tersebut dititip titipkan” pungkasnya. ( Endi S )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nyalakan Notifikasi    OK No thanks